Teroris di Indonesia

Sebelumkita membahas tentang teroris mari kita ketahui dulu tentang pengertian dari jihad fisabilillah mengapa? karena setiap kegiatan dari teroris tersebut selalu dikaitkan dengan jihad fisabillah padahal dalam kenyataanya sangan jauh dan sangat melenceng dari aturan islam!

Menurut Abdullah bin Umar r.a berkata, “Sesungguhnya seutama-utama amal sesudah shalat adalah jihad fii sabilillah (berjuang di jalan Allah).” (HR. Ahmad)

Pada masa kekhalifahan, kekuatan Islam sangat disegani. Jihad menjadi benteng kemuliaan menambah kokoh martabat Islam. Jihad merupakan puncak kekuatan dan kemuliaan Islam. Siapa saja yang berani merendahkan harus berhadapan dengan semangat juang para mujahid. Para mujahid senantiasa gigih, rela berkorban bersedia untuk bersusah payah menjunjung tinggi agama Allah.

Jihad dalam pengertian bahasa adalah sungguh-sungguh, kekuatan usaha, susah payah dan kemampuan. Secara umum, hakikat jihad mempunyai makna yang sangat luas. Yaitu, berjihad melawan hawa nafsu, berjihad melawan setan, dan berjihad melawan orang-orang fasik dari kalangan ahli bid’ah dan maksiat. Sedangkan menurut syara’ jihad adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang kafir. (Lihat Fathul Bari 6/77

Pertama, Jihad Kepada Diri Sendiri (Hawa Nafsu)

Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan bahwa jihad model ini, bisa dilakukan dengan belajar agama Islam, lalu mengamalkannya kemudian mengajarkannya.

Dalam Syarah Tsalatil Ushul, Syekh Muhammad Shalih Utsaimin, menukil pemaparan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah yang membagi jihad model ini ke dalam beberapa tahapan.

  1. Jihad menundukkan hawa nafsu untuk mempelajari petunjuk dan agama yang benar, mengingat tidak ada kemenangan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat melainkan di tempuh dengan mempelajari ilmu.
  2. Jihad menundukkan hawa nafsu untuk mengamalkannya setelah mengetahui petunjuk dan agama yang benar.
  3. Jihad menundukkan hawa nafsu dengan berdakwah. Mengajarkan kepada orang yang belum mengetahui.
  4. Jihad menundukkan hawa nafsu untuk sabar menghadapi rintangan dakwah kepada Allah dan gangguan makhluk. Menahan beratnya goda semata-mata karena Allah. Jika mampu menyempurnakan keempat tingkatan ini, maka termasuk golongan orang-orang Rabbani.”

Kedua, Jihad Kepada Syetan

Disebutkan, dalam Fathul Baari bahwa jihad model ini adalah dengan menolak segala bentuk syubhat dan syahwat yang selalu dihiasi oleh syetan.

Jihad melawan syetan bisa dilakukan dengan upaya preventif dengan bekal ilmu dan lingkungan yang baik. Do’a dan memohon perlindungan merupakan benteng yang tangguh untuk menguatkan diri dari godaan syetan.

Allah berfirman, “Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir : 5 – 6)

Ketiga, Jihad Kepada Orang Dzalim Dan Ahli Maksiat

Jihad model ini, dapat diwujudkan dengan amar ma’ruf nahi munkar. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda, bisa dengan lisan, tangan atau bahkan hanya membenci dengan hati.

Dari Abu Sa’id Al-Khudry r.a, berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Siapa diantara kamu melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan kekuatan tangannya, jika tidak dapat, maka hendaklah dengan lisannya, jika tidak dapat juga maka hendaklah dengan hatinya, dan ini selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Keempat, Jihad Kepada Orang-Orang Kafir

Model jihad ini, adalah jihad yang sebenarnya. Melakukan segala upaya untuk menggapai kemenangan melawan orang kafir dengan tangan, harta, lisan, dan hati.

Ketika menyebutkan pengertian Jihad Ibnu Hajar Al-Asqalani, menjelaskan, “Jihad menurut syar’i adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang-orang kafir.”

Jihad menegakkan kebenaran melawan orang kafir, harus dilakukan dengan cara dan ilmu yang benar. Para ulama fikih, telah menjelaskan bahwa ada empat tipe orang – orang kafir, dari ke empat tipe tersebut hanya satu tipe yang diijinkan untuk diperangi.

  1. Kafir Dzimmi

Kafir dzimmi adalah sebutan untuk orang non-muslim yang tunduk dengan pemerintahan kaum muslimin. Selain itu, orang kafir dzimmi dapat bermuamalah dan hidup berdampingan dengan kaum muslimin. Orang kafir tipe ini tidak mengganggu dan tidak mengusik ketenangan kaum muslimin. Karena itu, orang-orang ini tidak boleh untuk diperangi.

2. Kafir Mu’ahid

Kafir Mu’ahid adalah sebutan untuk orang – orang kafir yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin. Orang kafir tipe ini, bisa terjadi akibat adanya pertempuran yang berakhir pada kekalahan pihak kafir. Kekalahan ini melahirkan sebuah perundingan damai, dalam posisi ini kaum muslimin tidak diperbolehkan memerangi kaum kafir yang terikat perjanjian damai

3. Kafir Musta’mi

Kafir Musta’min, tipe ini banyak dijumpai di sekitar kita, yaitu orang non-muslim yang mendapat jaminan keamanan oleh pemerintah kaum muslimin. Sebagaimana model sebelumnya, tipe ini berhak mendapatkan perlindungan dan tidak boleh diperangi.

4. Kafir Harbi

Istilah ini, adalah diperuntukkan bagi orang kafir yang mengusik ketenangan kaum muslimin. Kafir harbi, adalah orang yang membenci dan memerangi kaum muslimin, menghina dan melecehkan agama Allah. Karena itu, inilah ladang jihad yang sesungguhnya mereka layak untuk diperangi dengan segala upaya. Tipe ini kaum muslimin diijinkan untuk mengobarkan perang hingga titik darah penghabisan

Rasulullah saw bersabda, “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, diri kalian dan lisan kalian.” (HR. Ahmad)

Ada banyak firman Allah yang menegaskan untuk memerangi mereka. Allah berfirman, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)

Allah berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Al-Imam Ibnu Al Qayyim menyatakan, jihad memerangi orang kafir adalah fardhu ‘ain ; dia berjihad dengan hatinya, atau lisannya, atau dengan hartanya, atau dengan tangannya, maka setiap muslim berjihad dengan salah satu di antara jenis jihad ini. (Lihat Zadul Ma’ad 3/64)

Nabi saw sendiri mendapatkan perintah dari Allah untuk menegakkan kalimah Allah. Allah murka kepada ulah orang – orang kafir sehingga mereka layak diperangi dan mendapatkan tempat di neraka Jahannam. Allah berfirman, “Hai nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS. At-Taubah: 73)

Mengapa Harus Berjihad?

Dari Abu Musa Abdullah Ibn Qais Al-Asy’ari r.a, berkata, “Rasulullah saw pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberanian, yang berperang karena semangat kebangsaan dan yang berperang karena popularitas. Manakah diantara ketiganya yang termasuk di jalan Allah? Maka Rasulullah saw menjawab, “Barangsiapa yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syekh Salim Ied Al-Hilaly menyebutkan bahwa hadits ini merupakan jawaban yang bijaksana, Rasulullah saw tidak mencela tetapi memberikan pemahaman bahwa jihad yang sebenarnya adalah siapa yang berperang untuk tujuan agama Allah menjadi yang paling tinggi.

Lebih lanjut beliau menegaskan, bahwa yang menjadi motivasi paling dasar adalah meninggikan kalimat Allah agar seluruhnya hanya diperuntukkan kepada Allah. Bila mendapatkan harta rampasan maka itu adalah karunia Allah dan tak boleh membuatnya ujub. Selain itu, dalam berjihad juga tidak diperbolehkan bersandar kepada selain Allah.

Dari uraian di atas semoga menjadi pencerahan bagi kita semua tentang apa yang di maksud dengan jihad dan masyrakat luas dapat membedakan mana yang benar-benar jihad dan mana yang hanya kepentingan pribadi.

Disana sudah cukup jelass bahwa jihad yang sebenarnya adalah untuk tujuan meninggikan nama Allah SWT, namun apkah selama ini perlakuan teroris yang sering menamai kegiatanya dengan jihad termasuk kategori diatas?  Ini patut dikaji ulang bahwa dalam kaitanya tidak sama sekali pergerakan teroris ini berkaitan dengan jihad!

Kita perlu waspada akan keaadaan mereka karena bisa jadi mereka dengan menggunakan kedok islam dengan nama jihad justru dibalik itu akan menghancurkan agama dan bangsa Indonesia ini.

swaraquran.com

About ilmam

sama saja

Posted on August 14, 2009, in lain lain!. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: